Saham Turun Terus ? Tips Warren Buffett Agar Tidak Panik

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Selasa (15/6), indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia ditutup menguat diiringi aksi beli investor asing. Tujuan diversifikasi adalah mengurangi kerugian karena kita sama-sama tahu bahwa kondisi pasar saham sedang tidak stabil. Bila kamu berani mengambil risiko, berinvestasi saham boleh saja dilakukan karena harga saham sedang murah-murahnya. Harga saham yang murah dari perusahaan dengan aspek basic yang baik sangatlah menarik dengan harapan harga saham akan segera naik setelah corona Covid-19 mereda. Hal tersebut terjadi di tahun 1998, dimana IHSG yang merosot sampai dengan level 398 yang berada pada situasi yang hampir terjadi kembali di 10 tahun sesudahnya.

Perusahaan dengan tingkat rasio utang yang tinggi biasanya perusahaan yang sedang berkembang dan sedang gencar mencari pendanaan dari para investor. Kebijakan Pemerintah dapat memengaruhi harga saham meskipun kebijakan itu masih dalam tahap wacana dan belum terealisasi. Investor nampaknya merotasi saham-saham siklikal yang sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi ke saham-saham teknologi. Pelaku pasar menanti hasil rapat financial institution sentral AS The Fed yang akan diumumkan pada Kamis (17/7) pukul 01.00 dini hari waktu WIB.

Jika suku bunga mengalami kenaikan, maka perusahaan dengan utang perbankan akan mengalami penyusutan laba. Mereka bisa saja memanfaatkan kekuatan media massa untuk memanipulasi harga saham, baik untuk menurunkan maupun meningkatkan harga guna mencapai tujuannya. Sehingga hal ini juga dianggap sebagai faktor yang mempengaruhi harga saham. Sudah sering saya bilang untuk jangan memasukkan semua uang ke dalam investasi saham.

Analis Indopremier Sekuritas Mino mengatakan bahwa penurunan harga saham gabungan tersebut diperkirakan karena aksi ambil untung. Selain itu, penambahan kasus COVID-19 dengan rekor penambahan kasus positif harian tertinggi juga menjadi katalis negatif bagi pergerakan IHSG. Tahun 2020 lalu, guncangan perekonomian global begitu besar hingga membuat pasar saham terguncang. Banyak orang yang ketakutan bahwa ini akan menjadi sebuah resesi ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 1998 dan 2008 lalu.

Menurut Presiden Direktur Gajah Tunggal, Sugeng Raharjo, kondisi saham perusahaan yang menurun bukan karena investor meragukan performa bisnis dari perusahaan manufaktur yang memproduksi ban tersebut. “Jadi lebih banyak penurunan harga saham itu ditentukan faktor di luar perusahaan. Jadi kami berharap pemerintah bisa stabil, kurs rupiah bisa turun, itu saja harapan kami,” kata Sugeng di Jakarta, Kamis (12/12). Saat saham turun, para investor tentu akan merasakan ketakutan dan kekhawatiran akan dampak yang terjadi.

Secara umum, naik turunnya harga saham memang sesuatu hal yang biasa, karena itulah para investor tidak mungkin bisa menghindari volatilitas pasar. Cara mengatasi saham turun penting Anda ketahui untuk menyikapi kemungkinan yang bisa terjadi. Tak jarang juga penurunan yang cukup tajam sehingga menimbulkan kerugian. Hal ini karena investor asing pagi ini sedang melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 137,4 miliar di pasar reguler dengan nilai transaksi menyentuh Rp 2 triliun. Penyebab oleh karena faktor manipulasi pasar tidak akan bertahan lama.

Mengapa harga saham menurun

Sebetulnya bukan cuma bursa saham Indonesia yang mengalami pukulan keras akibat wabah corona. Sejak awal tahun, performa ekonomi global juga ikut tertekan karena sentimen negatif dari virus corona. Apalagi setelah Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan standing virus corona sebagai pandemi world, tekanan terhadap perekonomian pun semakin kuat, tidak terkecuali perekonomian Indonesia. Kondisi pasar saham memang tidak selalu baik, tapi bukan berarti Anda harus mengurungkan niat untuk menjadi investor saham. Dengan perencanaan yang tepat dan matang, Anda bisa kok dapat cuan! Tunggu kepanikan selesai, simpan saham Anda yang berfundamental baik, serta selalu pegang dana likuid.

Secara umum ada beberapa faktor yang memengaruhi naik turun harga saham suatu perusahaan. Faktor-faktor tersebut diklasifikasikan menjadi faktor inner dan faktor eksternal. Sementara faktor eksternal adalah faktor yang bersumber dari luar perusahaan.

Untuk itu, nilai saham yang turun janganlah membuat Anda mengambil keputusan yang salah. Lihat perkembangan di hari berikutnya secara berkala, karena bisa saja nilai saham tersebut naik drastis secara tiba-tiba yang tentunya membuat Anda mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Investor asing melakukan aksi jual bersih senilai Rp632 miliar di seluruh pasar dan beli bersih senilai Rp181 miliar di pasar reguler. menjadi tiga saham yang paling banyak dibeli asing di pasar reguler.